Deskripsi
Bagaimana sebuah seni pertunjukan yang lahir dari rahim perjuangan melawan kolonialisme kini justru berjuang melawan waktu? Di balik keanggunan gerak dan ketegasan jurus silatnya, Tari Sepen Penyok kini berada di persimpangan jalan yang kritis. Pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia tidak serta-merta menjamin masa depannya jika regenerasi terhenti dan pengetahuan hanya tersimpan di kepala para maestro yang kian sepuh.
Buku ini hadir sebagai jawaban taktis atas urgensi tersebut. Pembaca akan dibawa menyelami anatomi kebudayaan Belitung Timur yang kaya, sekaligus disuguhkan peta jalan (roadmap) konkret untuk menyelamatkannya. Tidak hanya sebuah pencatatan sejarah, karya ini merumuskan tiga pilar gerakan penyelamatan: menyisipkan seni tradisi ke dalam ruang kelas melalui Kurikulum Merdeka, membangun arsip digital yang dapat diakses dunia, serta memperkuat ekosistem sanggar lokal agar mandiri secara ekonomi dan budaya.
Ditulis dengan pendekatan populer-akademik yang taktis dan berwibawa, buku ini menawarkan solusi segar yang menjembatani ranah birokrasi, pendidikan, dan komunitas akar rumput. Ini adalah bacaan wajib bagi pengambil kebijakan, akademisi, pegiat literasi, serta siapa saja yang menolak membiarkan identitas Nusantara lumat oleh arus zaman. Kepunahan budaya adalah pilihan, dan buku ini memilih jalan perlawanan lewat pemikiran strategis.
Jumlah Halaman:Â 192






Ulasan
Belum ada ulasan.