Deskripsi
Pernah merasa uang cepat habis padahal belanjanya terasa biasa saja? Atau hampir tergiur utang karena kedengarannya seperti jalan keluar paling cepat?
Secangkir kopi Rp30.000 tampak murah, tetapi kalau diminum setiap hari, sebulan bisa menyedot Rp900.000. Pinjaman Rp 45 juta terasa manis di awal, padahal yang harus dikembalikan sampai Rp67,68 juta. Angka-angka kecil seperti inilah yang diam-diam menentukan isi dompet kita.
Pola Pikir Akuntansi Ala Mbak-Mbak Pondok Pesantren mengajak pembaca memandang uang lewat dua kata yang akrab, ABRUR dan BRO. Dari sana, pembahasan bergerak ke hal-hal yang dekat dengan keseharian, mulai dari kebiasaan nongkrong, sok kenal sok minjam, debt collector, investasi yang bisa dimulai dari Rp20.000, peluang cuan dari selembar daster, nasib perajin batik, sampai cara UMKM menghitung harga pokok dan titik impas. Bisnis franchise makanan menutup perjalanan dengan pelajaran bahwa catatan yang rapi menjaga usaha tetap berjalan dan pertemanan tetap utuh. Empat nilai yang ditekankan sepanjang buku adalah 1) jujur, 2) konsisten, 3) keterbukaan, dan 4) keuangan yang rapi.
Ditulis oleh seorang dosen akuntansi yang juga menjalankan usaha sendiri, dengan bahasa santai, ringkas, dan penuh pengalaman nyata. Setelah selesai, pembaca diajak lebih jernih membedakan kebutuhan dan keinginan, menimbang utang dan investasi dengan kepala dingin, serta mulai mencatat setiap rupiah yang masuk dan keluar.
Akuntansi ternyata tidak harus rumit. Kadang ia hanya soal kebiasaan kecil yang dijalankan dengan jujur dan sabar.






Ulasan
Belum ada ulasan.