Deskripsi
Dua daerah. Satu batas provinsi yang membelah mereka. Dan satu pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab, tentang apa yang sesungguhnya terjadi ketika dua pemerintah memutuskan untuk berbagi kepentingan yang sama?
Salah satu daerah memiliki magnet yang begitu kuat sehingga wisatawan datang tanpa perlu dibujuk. Daerah lainnya harus berjuang lebih keras, membangun dari desa ke desa, dari inisiatif warga yang tumbuh sendiri tanpa banyak campur tangan pemerintah. Di antara keduanya, terbentang lebih dari satu dekade sejarah kerja sama yang penuh jeda, kebimbangan, dan kadang, kebuntuan.
Buku ini menyingkap apa yang tersembunyi di balik dokumen-dokumen resmi bertuliskan nota kesepakatan dan perjanjian kerja sama. Kenapa dari puluhan bidang yang disepakati sejak awal, hanya segelintir yang benar-benar berjalan? Bagaimana bisa kemandirian yang selama ini dibanggakan justru berpotensi menjadi ancaman bagi kolaborasi itu sendiri? Dan mengapa sebuah konsep yang sama sekali tidak lahir dari dunia pariwisata, tiba-tiba menjadi penentu arah masa depan dua daerah ini?
Dengan pendekatan yang cermat tetapi tetap berpijak pada kerangka kebijakan publik yang kokoh, buku ini mengajak pembaca menelusuri jarak antara niat baik dan kenyataan di lapangan, antara aturan di atas kertas dan dinamika yang sesungguhnya terjadi di ruang-ruang rapat pemerintahan. Setiap babnya menghadirkan potret jujur tentang bagaimana dua daerah di Indonesia belajar berkolaborasi, jatuh bangun, namun tidak pernah benar-benar berhenti mencoba.
Bagi siapa pun yang penasaran dengan dunia di balik layar tata kelola wilayah dan masa depan kawasan yang saling terhubung, buku ini adalah pintu masuk yang tepat.






Ulasan
Belum ada ulasan.