Deskripsi
Seiring kematian ayahnya, Diva mengalami goncangan kejiwaan luar biasa. Hidupnya terasa sepi, sedih, hampa, dan tak bergairah. Alam semesta pun terasa gelap, hanya menyajikan ketakutan dan kekhawatiran. Karena itu, dia menggugat, kenapa ayahnya harus pergi selamanya ketika ia masih butuh perhatian, bimbingan, dan sandaran. Kematian ayahnya membuatnya kehilangan harapan dan lukisan masa depan.
Penderitaan itu kian lengkap ketika proses kuliahnya di fakultas psikologi tak henti didera persoalan. Mulai dari kesulitan biaya, membagi waktu kuliah sambil kerja, ancaman drop out, hingga intrik percintaan. Beratnya penderitaan itu membuatnya tak kuat bertahan sehingga sempat berpikir untuk berhenti kuliah.
Di tengah goncangan kejiwaan itu, ibu dan sahabat karib ayahnya hadir menguatkan. Daffa, teman kuliahnya yang diam-diam menaruh hati padanya, juga turut membantu dengan cara menyarankannya untuk berkomunikasi atau berdialog imajiner dengan ayahnya. Setelah mengikuti saran itu, kondisi kesehatan mentalnya berangsur pulih. Semua persoalan yang menghadangnya sirna. Akhirnya, dia pun bisa menamatkan kuliah. Sayangnya, di momen wisuda, Diva tidak didampingi ayahnya. Pigura ayahnya yang dibawanya tak mampu membentenginya dari rasa sedih dan pilu. Perasaan itu baru hilang setelah dia mengunjungi pusara ayahnya di hari wisudanya.
Di pusara itu dia sampaikan bahwa janjinya yang pernah ditulis di laptop telah terpenuhi dan toga yang dikenakannya sejatinya juga untuk ayahnya. Setelah itu, dia meminta ayahnya untuk tenang, jangan bersedih lagi. Sebab, dengan berbekal warisan ayahnya, dia telah siap menyandang nama “Diva”, sekaligus siap mewujudkan doa dan harapan yang diselipkan di nama itu.






Ulasan
Belum ada ulasan.