Deskripsi
Di tengah asumsi global bahwa modernisasi akan melahirkan sekularisasi ekstrem, Indonesia justru berdiri tegak sebagai laboratorium “Living Religion” yang sangat dinamis. Di sini, modernitas tidak mematikan hal-hal sakral. Agama tidak dipahami secara kaku sebagai dogma normatif yang terpisah dari realitas, melainkan menjelma menjadi praktik-praktik kebudayaan sehari-hari. Agama juga dapat berkelindan, akrab, saling menunggangi isu-isu sosial, politik, ekonomi, baik dalam artian positif maupun negatif.
Buku ini hadir sebagai sebuah respons berani terhadap hegemoni teoretis Barat yang sering kali gagal membaca kompleksitas Nusantara. Melalui pendekatan interdisipliner, memadukan etnografi sensori, netnografi ruang digital, hingga analisis wacana kritis, karya ini mendekonstruksi mitos lama dan menawarkan Indigenous Epistemology (epistemologi pribumi untuk memahami hibriditas kultural secara jujur.
Lebih dari sekadar catatan teoretis menara gading, buku ini membedah isu-isu krusial dan sensitif kontemporer di akar rumput: Dialektika agama formal versus kosmologi leluhur yang kerap terabaikan; Jerat populisme politik yang mengeksploitasi simbol suci; Sisi gelap otoritas keagamaan dalam isu korupsi dan kekerasan seksual; Hingga panduan taktis (Policy Brief) berbasis riset untuk menggeser paradigma tata kelola negara dari top-down yang seragam menjadi bottom-up yang inklusif.
Ditulis dengan empati budaya yang mendalam namun tetap menjaga jarak ilmiah yang objektif, buku ini adalah kompas esensial bagi akademisi, peneliti, pengambil kebijakan, serta siapa saja yang ingin memahami bagaimana masyarakat Indonesia merajut kembali rajutan sosialnya dan menavigasi wajah keberagamaan yang terus berubah.
Sebuah undangan dialektika yang jujur untuk melihat masa depan bangkitnya religi-budaya Nusantara.






Ulasan
Belum ada ulasan.