Deskripsi
Hutan bukan sekadar deretan pohon; ia adalah modal alam yang menghidupi peradaban.
Selama puluhan tahun, pengelolaan sumber daya alam di Indonesia terjebak dalam paradigma sentralistik yang sering kali mengabaikan komunitas lokal. Akibatnya, deforestasi meluas, krisis air mengancam, dan ketimpangan ekonomi tak terhindarkan. Namun, di lereng Gunung Rinjani, sebuah narasi baru sedang ditulis.
Buku ini membedah secara mendalam transisi tata kelola hutan di Indonesia-dari pendekatan command-and-control menuju kolaborasi yang inklusif. Dengan mengintegrasikan teori ekonomi lingkungan, hak kepemilikan (property rights), dan desain kelembagaan Elinor Ostrom, penulis menyajikan analisis tajam mengenai bagaimana instrumen ekonomi, seperti Pembayaran Jasa Lingkungan (PES) dan Perhutanan Sosial (HKm) dapat menjadi kunci keberlanjutan.
Melalui studi kasus Hutan Sesaot di Lombok, Anda akan diajak melihat bagaimana insentif finansial bertemu dengan kearifan lokal untuk menciptakan “menara air” yang tangguh. Buku ini bukan sekadar referensi teoretis, melainkan sebuah peta jalan (roadmap) menuju pengelolaan alam yang adil secara sosial, stabil secara ekologis, dan menguntungkan secara ekonomis.
Temukan jawaban atas tantangan terbesar abad ini: Bagaimana kita membangun tanpa menghabiskan modal alam bagi generasi mendatang.
Jumlah Halaman: 104





Ulasan
Belum ada ulasan.