Deskripsi
Mengapa semakin banyak siswa lebih nyaman bertanya kepada ChatGPT daripada kepadagurunya?
Jawabannya mungkin lebih menyakitkan daripada yang kita bayangkan. Buku ini tidak sedang mempertentangkan manusia dengan kecerdasan buatan. Sebaliknya, buku ini mengajak kita bercermin pada sebuah ironi besar dalam dunia pendidikan: ketika mesin yang tidak memiliki hati justru dianggap lebih sabar, lebih aman, dan lebih menerima dibandingkan manusia yang mendidik. Melalui analisis yang tajam, refleksi yang mendalam, serta dukungan berbagai teori pendidikan, psikologi, dan sosiologi, buku ini mengungkap mengapa ruang kelas perlahan kehilangan rasa aman, mengapa guru merasa mulai tersisih, dan mengapa siswa diam-diam memindahkan loyalitas belajarnya kepada algoritma.
Namun, buku ini bukan kisah tentang kemenangan AI. Ini adalah panggilan untuk mengembalikan hakikat pendidikan sebagai perjumpaan antarmanusia—tempat rasa ingin tahu dihargai, kesalahan diterima sebagai bagian dari belajar, dan kehadiran seorang guru menjadi sumber makna yang tak akan pernah dapat digantikan oleh teknologi secanggih apa pun. ChatGPT Lebih Sabar dari Guruku bukan sekadar buku tentang kecerdasan buatan. Ia adalah refleksi tentang masa depan pendidikan, tentang krisis relasi di ruang kelas, dan tentang bagaimana kita dapat menjadi lebih manusiawi di era ketika mesin semakin cerdas. Buku ini layak dibaca oleh guru, dosen, orang tua, mahasiswa, pengambil kebijakan, serta siapa pun yang percaya bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga memanusiakan manusia.






Ulasan
Belum ada ulasan.