Deskripsi
Tiga hari setelah pemakaman ayahnya, Maria masih berdiri di rumah yang sama, mencium aroma kopi dan cengkeh yang tak kunjung pergi dari lemari baju almarhum. Di buku tamu duka, ratusan orang menuliskan diri mereka sebagai “murid”. Bahkan, beberapa mengingat tahun dan kelas mereka puluhan tahun lalu. Namun, bagi Maria dan empat kakak perempuannya, laki-laki yang dikenang begitu utuh oleh orang-orang asing itu adalah sosok yang berbeda. Ia seorang ayah yang mengatur, bukan mendengarkan.
Kepergian sang ayah membuka pintu yang selama ini tertutup rapat. Tentang sebidang tanah warisan yang diperebutkan, tentang alasan “pulang”, dan tentang luka-luka lama yang diwariskan turun-temurun dalam diam. Perlahan, Maria dan saudara-saudaranya dipaksa menghadapi pertanyaan yang selama ini dihindari: apakah tanah, rumah, dan kenangan tentang ayah hanya milik para lelaki dalam keluarga? Maria dan Tanah Lelaki adalah kisah tentang duka yang tidak sederhana, tentang perempuan-perempuan yang belajar bersuara setelah bertahun-tahun diam, dan tentang makna pulang ke rumah.






Ulasan
Belum ada ulasan.