Deskripsi
Di sebuah wilayah yang tak pernah benar-benar gelap, Cahyo setia menjaga gerbang pembangkit listrik—tempat yang memberinya penghidupan sekaligus keyakinan bahwa ia adalah bagian dari sesuatu yang besar. Baginya, listrik bukan sekadar energi; ia adalah napas yang menjaga dapur tetap mengepul dan masa depan tetap menyala.
Namun, dunia Cahyo mulai retak saat ia bertemu Naess, seorang mahasiswi aktivis lingkungan yang melihat realitas dari sisi yang kontras. Bagi Naess, cahaya yang menyilaukan itu justru menyisakan bayangan kelam: laut yang berubah, udara yang berat, dan kehidupan yang perlahan tergerus tanpa suara.
Pertemuan mereka bukan sekadar benturan idealisme, melainkan sebuah kejutan pembelajaran tentang cara berpikir kritis. Melalui rangkaian catatan yang bergantian, buku ini mengajak pembaca untuk tidak sekadar memihak, tetapi membedah setiap argumen, mempertanyakan keyakinan lama, dan belajar bagaimana mengomunikasikan kebenaran di tengah perbedaan yang tajam.
Dalam narasi yang tidak hitam-putih ini, tidak ada pahlawan maupun penjahat—hanya manusia yang berusaha bertahan di tengah pilihan-pilihan sulit. Di antara terang dan gelap, pembaca ditantang untuk menunda penilaian dan melihat bahwa kejernihan berpikir sering kali lahir dari keberanian untuk mendengar sudut pandang yang berbeda.
“Jelaga di Ujung Lidah” bukan sekadar cerita; ia adalah ruang refleksi tentang bagaimana kita memahami, menilai, dan berbicara di tengah dunia yang terus berubah.
Jumlah Halaman: 116





Ulasan
Belum ada ulasan.