Deskripsi
“Luka dari tangan seorang ayah adalah trauma yang abadi, menembus waktu hingga ke ulu hati. Lewat puing kehancuran itulah, sepasang sayap baru perlahan semi.” Di relung hati terdalam, sosok Ayah selalu bertakhta sebagai cinta pertama—sebuah sangkar emas yang menawan, menawarkan perlindungan sekaligus mengurung jiwa dalam ekspektasi yang menyesakkan.
Saat dinding kemegahan itu runtuh oleh badai, luka purba pun terukir, dan tanpa sadar menuntun langkah sang anak perempuan pada siklus takdir yang berulang. Di altar pernikahan, ia justru melabuhkan hati pada pasangan hidup yang nyatanya adalah cermin dari masa lalunya; menggoreskan sembilu yang sama dan memaksanya kembali menelan pedihnya sebuah pengkhianatan.
Namun, buku puisi ini bukanlah sekadar ratapan dari jiwa yang kalah. Bait-bait yang berdarah namun anggun di dalamnya adalah kesaksian epik tentang seorang perempuan yang menolak hancur. Ditemani malaikat kecilnya sebagai pelita, ia memilih keluar dari reruntuhan masa lalu, menenun kepingan rasa sakit menjadi kearifan, dan pada akhirnya menemukan bahwa muara dari segala penyembuhan sejati adalah keberanian untuk kembali ke dalam pelukan utuh dirinya sendiri.
Jumlah Halaman: 152





Ulasan
Belum ada ulasan.