Deskripsi
Bagi Gendis, cinta adalah kenyamanan rumah di sudut gang cua Kotagede, kehangatan aroma gadeg, dan kesederhanaan hidup di tanah Jawa. Namun, takdir menuntun langkahnya sejauh enam ribu kilometer ke utara, membawanya bersujud di bawah langit Istanbul sebagai istri dari Emir, seorang pria Turki dengan prinsip hidup sekeras batu Anatolia.
Sembilan puluh hari pertama pernikahan mereka di kawasan Moda tidak berjalan seperti dongeng romantis. Di dapur apartemen yang sempit, perang dingin tanpa suara terjadi setiap pagi. Stoples bumbu rendang instan kiriman Yogyakarta harus bersanding kaku dengan merah menyalanya pul biber milik Emir. Lidah dan kebiasaan mereka berbenturan, Emir mendamba kemeguhan ritual sarapan sopme kakusalt, sementara Gendis berjuang melawan serangan homesick akut demi sepiring nasi goreng kampung
Tantangan terbesar muncul saat Anne Fatimah, ibu mertua Emir yang perfeksionis konvensional, datang berkunjung. Di Turki, kehormatan seorang menantu dinilai dari seberapa berkilaunva sela jendela dan seberapa tipis gulungan daun anggar (yaprak sarması) yang disajikannya. Di ambang rasa frustrasi, lelah menembus badai salju pertama, dan kendala bahasa yang rumit, Gendis harus memilih, menyerah pada asingnya bumi Ottoman, atau mengalah demi memenangkan hati keluarga borunya
Lewat diplomasi sepiring bakwan savur dan selembar kain batik Sidomukti, kisah ini merenda sebuah arti kompromi. Bahwa menyatukan dua kepala dari peradaban yang berbeda tidak pernah melulu soal geografi. Di atas dua sajadah yang tergelar berdampingan menghadap kihlar yang sama, Gendis dan Emir belajar bahwa cinta tidak pernah membutuhkan paspor-ia hanya buruh kelapangan hari untuk melebur di bawah satu atap yang hangat






Ulasan
Belum ada ulasan.