Deskripsi
”Jalan kehidupan tidak seindah yang diharapkan. Tuhan telah mengatur, dan kita senantiasa diuji.”
Bagi Hj. Aminah, banyu didih bukan sekadar air rebusan nasi, tetapi simbol kelangsungan hidup di kala kepahitan melanda. Dari lorong-lorong gelap di Banjarmasin hingga ke pelamin kebahagiaan, ikuti kisah menyayat hati tentang cinta yang tidak memandang rupa, dosa yang menuntut kemaafan, dan takdir yang mempertemukan kembali jiwa-jiwa yang pernah terpisah.
Sebuah novel penuh emosi dalam dialek Banjar Kuala yang memikat.
Jumlah Halaman: 147





Ulasan
Belum ada ulasan.