Buku Antara Kabut dan Samudra: Satu Cinta Dihancurkan Kasta, Satu Martabat Dibangun Dari Kedalaman Samudra
Rp60,000
Dulu, di bawah selimut kabut Ruteng yang pucat dan bisu, Pipin memilih untuk menyerah. Demi kehormatan semu dan seragam jabatan yang dipuja keluarganya, ia mengubur cintanya dalam-dalam.
Ia membiarkan Tatek—lelaki yang hanya memiliki pena dan ketulusan—terusir sebagai pecundang, kalah telak oleh kasta dan tembok birokrasi yang dingin. Di Ruteng, Tatek adalah “nol”, sebuah titik lemah yang mudah dihapus dari sejarah. Namun, dinginnya kabut tidak sanggup mematikan api di dada Tatek.
Alasan berbelanja di Detak Pustaka Toko
- Produk 100% Original
- Garansi Uang Kembali
- Banyak Metode Pembayaran
Deskripsi
Ulasan (0)
Deskripsi
| Berat | 220 gram |
|---|---|
| Dimensi | 20 × 14 × 1.5 cm |
DI ANTARA KABUT DAN SAMUDERA Di daratan ia dikhianati oleh kabut; di samudra ia menjelma menjadi badai.
Dulu, di bawah selimut kabut Ruteng yang pucat dan bisu, Pipin memilih untuk menyerah. Demi kehormatan semu dan seragam jabatan yang dipuja keluarganya, ia mengubur cintanya dalam-dalam. Ia membiarkan Tatek—lelaki yang hanya memiliki pena dan ketulusan—terusir sebagai pecundang, kalah telak oleh kasta dan tembok birokrasi yang dingin. Di Ruteng, Tatek adalah “nol”, sebuah titik lemah yang mudah dihapus dari sejarah. Namun, dinginnya kabut tidak sanggup mematikan api di dada Tatek.
Tiga tahun kemudian, segalanya berubah total di bawah terik matahari Labuan Bajo yang membakar. Tak ada lagi wartawan santun yang bisa ditindas; yang tersisa hanyalah lelaki berambut gimbal dengan kulit yang ditempa garam dan matahari. Tatek telah lahir baru sebagai penyelam tangguh yang tak lagi butuh doa di daratan, karena ia telah belajar mendengarkan detak jantung samudra. Ia adalah Penguasa Arus—bebas, liar, dan tak tersentuh oleh aturan kasta yang dulu menghancurkannya.
Garis takdir yang bengkok membawa Pipin kembali. Ia hadir di atas kapal yang sama, membawa beban masa lalu dan kebanggaan seragam yang kini terasa menyesakkan di tengah cuaca laut yang ekstrem. Saat badai menghantam dan kabut laut mulai menutup pandangan, semua jabatan dan kehormatan keluarga Pipin mendadak lumpuh tak berdaya. Di tengah amukan ombak, hanya ada satu tangan yang mampu menariknya dari jemputan maut: tangan kokoh milik lelaki yang dulu ia buang demi status sosial.
Di antara dua dunia yang berbeda ini, Pipin harus belajar bahwa kehormatan tidak ditemukan dalam restu yang dipaksakan di puncak gunung, melainkan pada keberanian untuk bertahan hidup di kedalaman samudra. “Kabut bisa menyembunyikan kebohongan, tapi laut akan selalu menyingkap kebenaran.”
Jumlah Halaman: 201
Ulasan (0)
Tinggalkan Balasan








Ulasan
Belum ada ulasan.