Deskripsi
Betapa perbedaan itu membawa dampak, makan dalam kondisi lapar akan sangat berbeda nikmatnya dibanding tidak dalam keadaan lapar. Nahawan merasakan perih dalam melewati perbedaan hidup yang dijalaninya kekayaannya tak pernah membuatnya bahagia, justru dia merasa mual dengan lingkungan teman dan tetangganya. Sering dia tersayat hati bahkan hingga menangis untuk kondisi orang di luar sana, dia tidak cukup sepuluh – dua puluh kali mengatasi kondisi orang. Dia bergumam ” Bagaimana aku dalam situasi seperti ini “. Namun hidup harus bergerak ia tak bisa larut dalam suatu kondisi yang tak menentu, Nahawan pada akhirnya memutuskan niat kuatnya untuk hidup bersama mereka menikmati hidup sederhana. Idenya adalah dia “Nyantri” di Seribu Pesantren Atap Langit, restu ibu melepasnya dengan banjir air mata dan sesak dada bahkan sakit, karena Nahawan anak tunggal tambatan hati bunda. Perjalanan santri ini berrona kepahlawanan, cinta dan nestapa.





Ulasan
Belum ada ulasan.