Pengendalian Sosial: Pengertian, Fungsi, dan Jenis-Jenisnya

Siapa di sini yang bertanya-tanya mengapa masyarakat dapat berjalan dengan tertib meskipun memiliki keinginan yang berbeda-beda. Dalam sosiologi, situasi ini tidak berjalan begitu saja, namun merupakan hasil dari adanya pengendalian sosial (social control).
Secara sederhana, pengendalian sosial dapat kita analogikan sebagai sebuah rem yang berfungsi untuk mengatur perilaku individu agar tetap sesuai dengan aturan dan nilai yang berlaku di masyarakat. Tanpa adanya kontrol ini, kehidupan bermasyarakat bisa menjadi tidak karuan karena setiap orang akan bertindak sesuka hati tanpa memikirkan kepentingan orang lain.
Pengendalian Sosial: Pengertian, Fungsi, dan Jenis-Jenisnya
Melalui artikel ini, kita akan mempelajari apa itu pengendalian sosial, mulai dari pengertian dari para ahli, fungsi, hingga berbagai jenisnya. Harapannya, setelah membaca tulisan ini, teman-teman dapat memahami betapa pentingnya aturan, nilai, dan norma dalam menjaga ketentraman kehidupan masyarakat. Tidak perlu berlama lagi, mari kita simak penjelasan di bawah ini:
Pengertian Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial dapat kita artikan sebagai suatu cara yang masyarakat atau lembaga gunakan untuk memastikan setiap individu mematuhi peraturan yang telah disepakati bersama. Hal ini bertujuan untuk mencegah sekaligus menangani penyimpangan sosial dan menjaga keamanan sosial.
Agar semakin paham, berikut adalah beberapa pendapat dari para ahli mengenai definisi pengendalian sosial, yaitu:
1. Menurut Peter L. Berger dan Thomas Luckmann
Pengendalian sosial merupakan cara masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang tidak mau mengikuti aturan. Bagi individu yang terbukti melanggar norma, maka akan diberikan sanksi atau hukuman supaya ia jera dan tidak mengulangi perbuatannya.
2. Menurut Selo Soemardjan dan Soedarmadi
Pengertian pengendalian sosial menurut kedua tokoh ini adalah proses yang setiap individu atau kelompok dalam masyarakat lakukan untuk menghasilkan keselarasan (konformitas) terhadap norma-norma yang berlaku. Hal ini bertujuan demi menciptakan kekompakan dalam berperilaku sesuai standar masyarakat.
3. Menurut Bruce J. Cohen
Berdasarkan pemikiran Cohen, pengendalian sosial merupakan berbagai upaya atau metode yang digunakan untuk mendorong individu/kelompok agar berperilaku selaras aturan dan norma-norma yang ada. Masyarakat dapat mengajak, membimbing, ataupun memaksa anggotanya untuk mematuhi nilai serta norma sosial yang berlaku.
4. Menurut George dan Achilles Theodorson
Definisi pengendalian menurut dua pakar ini adalah cara sistem di masyarakat untuk mengatur tingkah laku para anggotanya. Tujuannya, Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa semua anggota bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap benar oleh lingkungan tersebut.
5. Robert M.Z. Lawang
Lawang mengartikan pengendalian sosial sebagai sekumpulan alat atau cara yang masyarakat ciptakan dan gunakan untuk memantau serta mengarahkan perilaku setiap individu agar tetap berada di jalur yang benar.
Fungsi Pengendalian Sosial dalam Masyarakat
Secara lebih mendalam, pengendalian sosial memiliki beberapa fungsi utama, yaitu:
1. Menjaga keamanan dan ketertiban
Fungsi pengendalian sosial yang pertama yaitu untuk mencegah berbagai tindak kejahatan, konflik, dan kerusuhan, sehingga masyarakat bisa merasa lebih tenang dan aman saat beraktivitas.
2. Menjaga nilai dan norma
Pengendalian sosial berfungsi untuk memastikan nilai dan norma yang ada tetap dijalankan oleh masyarakat. Tanpa adanya fungsi ini, aturan hanya akan menjadi hiasan atau ornamen yang tidak memiliki kekuatan untuk mengatur perilaku manusia. Melalui pengendalian sosial, masyarakat seolah memiliki pemandu jalan yang memastikan setiap individu tidak melenceng dari kesepakatan bersama.
3. Mempererat rasa kebersamaan
Mendorong setiap anggota masyarakat untuk saling bekerja sama dan merasa senasib sepenanggungan dalam mencapai tujuan bersama.
4. Mendorong perubahan yang lebih baik
Pengendalian sosial tidak hanya berfungsi untuk menjaga aturan lama, tapi juga membantu masyarakat beradaptasi dengan berbagai aturan baru yang membawa kemajuan.
5. Mendorong kelompok minoritas
Fungsi pengendalian sosial berikutnya yaitu untuk memastikan tidak ada lagi tindakan sewenang-wenang atau diskriminasi terhadap kelompok minoritas dengan cara menegakkan prinsip keadilan.
6. Mempercepat integrasi sosial
Kehadiran pengendalian sosial membantu anggota masyarakat yang berbeda latar belakang untuk bisa saling menerima dan menghargai satu sama lain, tanpa melihat latar belakang agama, suku, ras, jenis kelamin, maupun stutus ekonomi.
7. Mencegah terjadinya konflik sosial
Pengendalian sosial memiliki peran sebagai penengah yang mencegah terjadinya konflik atau pertikaian serta mendorong penyelesaian masalah melalui jalan damai.
8. Mendukung kemajuan ekonomi
Lingkungan yang aman dan stabil berkat adanya kontrol sosial akan membuat ekonomi tumbuh subur karena setiap orang merasa aman untuk menjalankan usaha.
9. Meningkatkan kesejahteraan hidup
Kesimpulan dari semua fungsi di atas yaitu dapat terciptanya kualitas hidup yang lebih baik di lingkungan yang aman, harmonis, dan teratur.
Jenis-Jenis Pengendalian Sosial

Pada umumnya, pengendalian sosial terbagi menjadi tiga kategori, yaitu berdasarkan cara, sifat, dan bentuknya.
a. Berdasarkan cara pengendalian sosial
Adapun jenis pengendalian sosial berdasarkan caranya yaitu:
1. Persuasif
Bentuk pengendalian sosial ini dilakukan melalui berbagai pendekatan, baik secara formal maupun informal. Mulai dari sosialisasi, imbauan, hingga bimbingan kepada anggota masyarakat maupun pelaku penyimpangan agar patuh terhadap nilai dan norma sosial.
2. Koersif
Berbeda dengan persuasif, koersif merupakan pengendalian sosial yang dilakukan dengan cara kekerasan atau paksaan, baik secara fisik maupun nonfisik untuk membentuk masyarakat yang tertib dan tunduk kepada hukum.
b. Berdasarkan sifat pengendalian sosial
Berikut adalah penjelasan mengenai jenis-jenis pengendalian sosial berdasarkan sifatnya, yaitu:
1. Preventif
Pengendalian sosial yang dilakukan dengan mencegah munculnya penyimpangan sosial dalam masyarakat. Contohnya:
- Penyuluhan bahaya narkoba di sekolah-sekolah.
- Orang tua Ani selalu menasihatinya agar tidak bergaul dengan teman yang suka keluar malam.
- Guru BK memberikan bimbingan kepada murid kelas XI agar tidak melanggar peraturan sekolah.
2. Represif
Pengendalian sosial yang dijalankan untuk mengembalikan keserasian akibat pelanggaran nilai dan norma sosial. Upaya ini dapat kita lakukan dengan cara memberikan sanksi atau hukuman tertentu. Contohnya yaitu penangkapan pencuri oleh pihak berwajib atau pemberian denda kepada pabrik/perusahaan yang membuang limbah sembarangan.
c. Berdasarkan bentuk pengendalian sosial
Berikut adalah penjelasan mengenai pengendalian sosial berdasarkan bentuknya, yaitu:
1. Formal
Pengendalian sosial yang bersifat resmi dan dilaksanakan oleh pihak berwenang seperti polisi, kejaksaan, dan pengadilan. Pelaku penyimpangan akan diproses sesuai ketentuan undang-undangan dan peraturan yang berlaku. Contohnya:
- Polisi yang menilang pengguna sepeda motor yang melanggar lalu lintas
- Hakim yang menjatuhkan vonis di pengadilan kepada pelaku tindak pidana korupsi.
2. Nonformal
Jenis pengendalian sosial yang tidak resmi dan dilakukan oleh masyarakat kepada pelaku penyimpangan secara langsung melalui berbagai proses sosial seperti desas-desus, intimidasi, terguran, cemoohan, dan pengucilan. Contohnya:
- Dewi menegur temannya yang berbicara terlalu keras ketika berada di perpustakaan sekolah.
- Pak RT menegur anak laki-laki Pak Wijaya karena sering berkendara terlalu ngebut di jalanan kampung.
- Sekelompok remaja mengolok-ngolok tim yang berbuat curang saat bermain futsal.
Nah, itulah penjelasan mengenai apa itu pengendalian sosial, mulai dari pengertian dari para ahli, fungsi utama, hingga berbagai jenisnya. Semoga setelah membaca artikel ini, teman-teman dapat memahami dan mengaplikasi konsep sosiologi ini dalam kehidupan sehari-hari, ya!

Tuliskan Komentar