Buku Pengabdian Dipatahkan oleh Birokrasi
Rp59,000
Buku ini bercerita tentang seorang guru pedalaman yang berada di Desa Sinobi, Kecamatan Konohagakure, Kabupaten Konoha. Dalam perjalanan karirnya, guru tersebut terpisah jarak puluhan kilometer dengan anak istrinya yang membuatnya menjalani tugas sebagai guru dalam kehampaan. Tidak mudah baginya untuk membagi waktu.
Alasan berbelanja di Detak Pustaka Toko
- Produk 100% Original
- Garansi Uang Kembali
- Banyak Metode Pembayaran
Deskripsi
Ulasan (0)
Deskripsi
| Berat | 230 gram |
|---|---|
| Dimensi | 20 × 14 × 1.5 cm |
Buku ini bercerita tentang seorang guru pedalaman yang berada di Desa Sinobi, Kecamatan Konohagakure, Kabupaten Konoha. Dalam perjalanan karirnya, guru tersebut terpisah jarak puluhan kilometer dengan anak istrinya yang membuatnya menjalani tugas sebagai guru dalam kehampaan. Tidak mudah baginya untuk membagi waktu.
mengisi ruang kelas, guru tersebut juga memiliki kewajiban mengisi ruang keluarganya. Di sana ada anak dan istri yang memerlukan kehadirannya sebagai sosok ayah sekaligus suami. Istri dari guru tersebut juga berprofesi sebagai tenaga pendidik yang bertugas di Desa Abogakure, Kecamatan Sunagakure, Kabupaten Konoha. Meskipun masih berada dalam satu kabupaten, perbedaan kecamatan membuat guru tersebut harus terpisah jarak dengan istri dan anaknya.
Suatu hari, guru tersebut berencana untuk melakukan mutasi mengajar dari sekolah asal menuju sekolah tempat istri bekerja. Singkat cerita, berkas mutasi sudah dipersiapkan dan diserahkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Konoha. Dua tahun lamanya berkas guru tersebut tidak mendapat kabar. Janji demi janji diucapkan oleh petugas, mulai dari mutasi menjadi kepala sekolah namun ternyata gagal dan diusulkan kembali menjadi guru biasa.
Pada akhirnya kabar buruk tiba yang membuat guru tersebut merasa dikhianati oleh sistem. Sekolah yang dituju ternyata telah diisi oleh orang baru, yaitu PPPK yang baru lulus seleksi. Guru tersebut sangat kecewa karena telah dua tahun lamanya menunggu dengan masa pengabdian lebih dari enam tahun di pedalaman.
Seolah masa tunggu yang lama dan pengabdian diabaikan begitu saja oleh kehadiran PPPK baru yang tidak merasakan bagaimana perjuangan mengabdi di pedalaman. PPPK baru yang mengisi formasi di tempat tujuan mutasi guru tersebut ternyata bukan orang luar, melainkan guru honorer yang berasal dari sekolah yang dipimpin oleh mertuanya.
Rasa kecewa semakin menjadi-jadi karena guru honorer tersebut mengetahui tentang rencana mutasi guru itu. Guru tersebut mempertanyakan di mana rasa kepedulian guru honorer itu. Bukankah mertuanya telah membantu merekrutnya dari keterpurukan setelah ia dikeluarkan oleh atasan di sekolah lamanya? Mengapa ia malah memilih sekolah yang ia tau sekolah tersebut sebagai jalan pulang menantu atasannya untuk dapat berkumpul bersama anak dan istrinya secara utuh.
Di titik ini, guru tersebut tidak hanya berhadapan dengan sistem yang tidak adil, tetapi juga pengkhianatan dari orang yang seharusnya paham arti balas budi. Masihkah pengabdian enam tahun di pedalaman memiliki harga, ketika “jalan pulang” satu-satunya justru ditutup oleh orang terdekat?
Jumlah Halaman: 196
Ulasan (0)
Tinggalkan Balasan








Ulasan
Belum ada ulasan.