Buku Air sebagai Ruang Sakral: Membaca Arsitektur Patirtan dalam Kosmologi Singasari
Rp61,000
Buku ini membahas patirtan peninggalan Kerajaan Singasari sebagai ekspresi arsitektur ruang sakral yang dibentuk oleh kosmologi air.
Air diposisikan bukan semata sebagai elemen alam atau sarana ritual, melainkan sebagai ruang arsitektural yang secara aktif mengorganisasi zonasi, hierarki kesucian, pola sirkulasi, serta pengalaman spiritual dalam lanskap sakral.
Alasan berbelanja di Detak Pustaka Toko
- Produk 100% Original
- Garansi Uang Kembali
- Banyak Metode Pembayaran
Deskripsi
Ulasan (0)
Deskripsi
| Berat | 225 gram |
|---|---|
| Dimensi | 20 × 14 × 1.5 cm |
Buku ini membahas patirtan peninggalan Kerajaan Singasari sebagai ekspresi arsitektur ruang sakral yang dibentuk oleh kosmologi air. Air diposisikan bukan semata sebagai elemen alam atau sarana ritual, melainkan sebagai ruang arsitektural yang secara aktif mengorganisasi zonasi, hierarki kesucian, pola sirkulasi, serta pengalaman spiritual dalam lanskap sakral. Dalam kerangka ini, air berfungsi sebagai elemen pembentuk ruang yang menentukan struktur dan makna kawasan.
Melalui kajian terhadap Stupa Sumberawan, Patirtan Watugede, dan Pemandian Ken Dedes, buku ini menelaah bagaimana kosmologi Hindu–Buddha diwujudkan secara konkret dalam konfigurasi ruang, geometri sakral, orientasi, dan tata letak arsitektural. Relasi antara air, ritual, dan ruang menunjukkan bahwa patirtan bukan sekadar objek fungsional atau ritualistik, melainkan sebuah sistem spasial terintegrasi yang menyatukan dimensi simbolik, ekologis, dan sosial dalam satu kesatuan arsitektural.
Pendekatan arsitektur lingkungan binaan yang digunakan menempatkan patirtan Singasari sebagai warisan arsitektur yang hidup, di mana ruang dibentuk melalui interaksi antara air, topografi, dan praktik budaya. Air berperan sebagai medium transisi antara ranah profan dan sakral, sekaligus sebagai penanda identitas kosmologis dan budaya Nusantara. Dengan demikian, buku ini menegaskan posisi patirtan sebagai sumber pengetahuan arsitektural yang relevan untuk memahami konsep ruang sakral, keberlanjutan, dan relasi manusia–alam dalam konteks Nusantara.
Jumlah Halaman: 206
Ulasan (0)
Tinggalkan Balasan








Ulasan
Belum ada ulasan.